Mendengar kata Noken, secara otomatis kita akan ingat Papua. Tentu saja, sperti halnya masyarakat Jawa yang terkenal dengan tradisi Batiknya, maka Noken terkenal sebagai tradisi masyarakat Papua yang berjumlah lebih dari 250 etnis ini. Karena memang Noken sangatlah akrab dengan aktivitas keseharian mereka. Sejak kelahiran, masa kanak kanak, tumbuh menjadi remaja, beranjak dewasa, menikah, hingga kematian.
Secara fisik Noken berupa tas rajutan yang dibuat dari akar tumbuhan, dan digunakan untuk membawa benda. Membawa hasil pertanian, alat-alat sekolah, menggendong anak, atau membawa kayu bakar. Selain itu, Noken juga memiliki banyak makna dan fungsi. Salah satu maknanya adalah sebagai Simbol Kedewasaan seorang perempuan. Dimana seorang gadis Papua baru di anggap dewasa dan diperbolehkan untuk menikah jika sudah pandai membuat Noken.
Fungsi Noken bermacam-macam, selain sebagai alat pembawa barang. Noken juga memiliki nilai ekonomis, karena dapat digunakan sebagai alat tukar. Lima buah Noken dapat di tukar dengan seekor anak babi. Dan untuk mendapatkan seekor babi dewasa, dapat ditukar dengan 10 Noken. Noken juga berfungsi sebagai pakaian mempelai pengantin wanita dan sebagai atribut yang harus digunakan saat upacara-upacara adat.
Tapi saat ini Noken hanya dibuat oleh para Mama Papua, sedangkan perempuan muda Papua kurang berminat terhadap tradisi Noken. Mereka tidak tertarik untuk menguasai dan mengerjakan pembuatan Noken. Bahkan mereka lebih senang memakai tas yang berasal dari luar Papua. Hal ini tentunya amatlah mengkhawatirkan eksistensi Noken. Karena jika generasi muda sudah melupakan dan tidak lagi melanjutkan tadisi Noken, maka Noken bisa hanya tinggal kenangan saja. Untuk itu Pemerintah harus melakukan tidakan pencegahan kepunahan Noken. Tentunya harus bersinergi dengan masyarakat Papua dan juga para pendatang. Sehingga Noken akan tetap eksis di Papua.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar